Asmaraman S. Kho Ping
     
Seri: Bu Kek Siansu
Best Viewed with Screen Resolution 1024 by 768 pixels

Seri Bu Kek Siansu

 

Bu Kek Siansu
Suling Emas
Cinta Bernoda Darah
Mutiara Hitam
Istana Pulau Es
Pendekar Bongkok
Pendekar Super Sakti
Sepasang Pedang Iblis
Kisah Sepasang Rajawali
Jodoh Rajawali
Suling Emas Naga Siluman
Para Pendekar Pulau Es
Suling Naga
Kisah Si Bangau Putih
Kisah Si Bangau Merah
Tangan Sakti
Pusaka Pulau Es
 

 

 

Segera menyusul serial
Pendekar Kayu Harum
Selengkapnya

 

 

Navigation bar
  Start Previous page
 1 of 360 
Next page End 1 2 3 4 5 6  

Si Tangan Sakti
 
Kaisar Kian Liong adalah seorang di antara para kaisar Kerajaan Ceng atau Mancu yang
paling terkenal. Dia bijaksana dan pandai walaupun, seperti sebagian besar para kaisar
dan tokoh-tokoh besar dunia, dia memiliki pula sebuah kelemahan, yaitu mata keranjang
terhadap wanita. Dalam pemerintahannya selama enam puluh tahun (1736-1796)
kerajaannya mendapatkan banyak kemajuan sehingga namanya tercatat dengan tinta
emas dalam buku sejarah. Tentu saja tentang semua pengalamannya sebagai laki-laki
mata keranjang, sejak masih menjadi pangeran, sengaja tidak dicatat karena hal itu akan
menjadi noda saja dalam sejarah raja-raja yang selalu diagungkan.
 
Ketika kaisar ini masih muda, masih menjadi seorang pangeran, dia dikenal pula sebagai
seorang pangeran yang pandai bergaul, yang suka bergaul dengan rakyat jelata, bahkan
mendekati tokohtokoh dunia persilatan sehingga namanya populer dan disuka, disebut
Pangeran Bijaksana, Pangeran Mulia dan sebagainya.
 
Ketika dia masih pangeran, pada suatu hari dia melihat seorang wanita muda yang
teramat cantik manis berkunjung ke istana bagian puteri, mengunjungi kakak
perempuannya. Teringatlah dia bahwa wanita itu adalah Fu Heng, isteri dari Pangeran
Kian Tong yang menjadi kakak tirinya karena berlainan ibu. Kalau dia merupakan putera
permaisuri dan Pangeran Mahkota, Pangeran Kian Tong hanya puteri selir. Pangeran
Kian Tong baru beberapa bulan menikah dan wanita cantik itulah isterinya, yang kini
berkunjung kepada Puteri Can Kim, kakaknya yang memang menjadi sahabat baik isteri
Pangeran Kian Tong itu.
 
Semenjak bertemu dengan kakak iparnya yang bernama Fu Heng itu, Pangeran Kian
Liong menjadi tergila-gila. Biarpun dia dapat memperoleh gadis mana saja yang
dikehendakinya, namun pada waktu itu, hanya bayangan kakak iparnya yang nampak di
depan mata, siang malam! Tidur tak nyenyak, makan tak enak, begitulah keadaan
pangeran putera mahkota itu. Hal ini segera diketahui oleh pembantunya yang setia, juga
pelayannya, seorang thaikam (laki-laki kebiri) bernama Siauw Hok Cu.
 
“Pangeran, apakah yang mengganggu pikiran Paduka? Harap beritahukan kepada hamba,
dan hamba yang akan melaksanakan segala perintah Paduka untuk dapat memenuhi
segala kehendak Paduka.” kata thaikam itu.
 
Pangeran Kian Liong yang sedang rebahan itu bangkit duduk, memandang kepada
pelayannya yang setia dan menghela napas panjang. “Hok Cu, engkau tidak tahu betapa
hatiku merana karena rindu kepada seorang wanita.....”
 
Siauw Hok Cu tertawa, akan tetapi menutupi mulutnya dengan sikap sopan. “Sungguh
lucu ucapan Paduka ini. Wanita mana di dunia ini yang tidak akan lari ke dalam pelukan
Paduka kalau Paduka membuka lengan dan memanggilnya? Katakanlah, wanita mana
yang Paduka rindukan, dan hamba akan segera menjemputnya dan mengajaknya ke sini.”
 
Previous page Top Next page

TanganSakti - page 1 of 360