Pusaka Pulau Es
Pria penunggang kuda itu menghentikan kudanya dan memandang ke sekeliling dan dia
terpesona. Memang pagi itu indah bukan main. Di sekeliling tempat itu terdapat bukit-
bukit berjajar-jajar. Bukit-bukit di timur masih nampak gelap karena matahari baru
muncul mengintai dari balik punggung mereka. Akan tetapi bukit-bukit di barat sudah
mulai menerima sinar matahari pagi yang kuning keemasan.
Nampak kabut menyingkir perlahan dihalau sinar matahari pagi. Sinar matahari pagi
yang masih lembut namun sudah garang itu menerobos di antara kabut, sungguh
merupakan keindahan yang sukar untuk dilukiskan. Keindahannya lebih terasa di dalam
hati daripada di dalam mata. Burung-burung beterbangan mulai meninggalkan sarang,
dan masih ada sempat berkicau di antara ranting-ranting pohon, membuat suasana makin
ceria gembira dan mendorong seseorang untuk ikut bernyanyi-nyanyi. Matahari pagi
mulai muncul dan sinarnya menghidupkan segalanya, membangunkan semuanya yang
tadinya terlelap tidur dalam kegelapan sang malam. Nampak beberapa ekor kelinci dan
kijang menyeberangi semak dengan hati-hati sekali, telinga mereka membantu mata yang
menoleh ke kanan kiri, kemudian mereka melanjutkan jalan menuju ke semak lain. Tidak
ada seorang pun manusia lain kecuali si penunggang kuda yang menghentikan kudanya di
atas puncak sebuah bukit kecil itu.
Kekuasaan dan kecintaan Tuhan sungguh mengalir sepenuhnya di pagi hari itu, terasa
sekali di dalam hati. Dan orang itu merasa bahwa dirinya menjadi satu dengan segala
keindahan itu, menjadi bagian tak terpisahkan dari isi alam mayapada yang demikian
indah. Dia merasa dirinya kecil sekali, kecil tidak ada artinya, padahal biasanya dia
merupakan orang penting yang diperhatikan, dihormati dan dilayani banyak orang.
Pria itu masih muda. Paling banyak dua puluh lima tahun usianya. Seorang pemuda yang
tampan dan gagah. Rambutnya dikuncir menjadi sebuah kuncir yang gemuk panjang,
ujungnya diikat sutera kuning. Rambut itu di atasnya disisir rapi dan mengkilap karena
minyak rambut yang harum. Dahinya lebar, sepasang alisnya hitam tebal berbentuk
golok. Sepasang matanya mencorong seperti mata burung Hong, hidungnya mancung dan
mulutnya berbentuk indah dengan bibir mengarah senyum mengejek. Dandanannya
menunjukkan bahwa dia tentu seorang bangsawan muda yang kaya-raya.
Siapakah pemuda tampan gagah yang pakaiannya perlente dan pesolek ini? Dia memang
bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang pangeran! Pangeran Tao Seng namanya,
putera dari Kaisar Cia Cing (1796-1820). Kenapa dan mau apakah seorang pangeran
berada di antara pegunungan di tempat yang begitu jauh di utara itu, seorang diri pula?
Pangeran Tao Seng memang seorang petualang besar. Sejak kecil dia bukan saja
mempelajari ilmu kesusastraan, bahkan juga belajar ilmu silat dengan tekun sehingga
setelah menjadi dewasa, dia menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Dan agaknya
dia tertarik oleh riwayat kakeknya, Kaisar Kian Liong yang di waktu mudanya suka
merantau dan memasuki dunia kang-ouw mencari pengalaman. Demikian pula dengan
Tao Seng. Agaknya dia mewarisi jiwa petualang dari kakeknya ini. Seringkali dia
merantau seorang diri saja, mengandalkan ilmu silatnya untuk melindungi dirinya. Dia