Asmaraman S. Kho Ping
     
Seri: Bu Kek Siansu
Best Viewed with Screen Resolution 1024 by 768 pixels

Seri Bu Kek Siansu

 

Bu Kek Siansu
Suling Emas
Cinta Bernoda Darah
Mutiara Hitam
Istana Pulau Es
Pendekar Bongkok
Pendekar Super Sakti
Sepasang Pedang Iblis
Kisah Sepasang Rajawali
Jodoh Rajawali
Suling Emas Naga Siluman
Para Pendekar Pulau Es
Suling Naga
Kisah Si Bangau Putih
Kisah Si Bangau Merah
Tangan Sakti
Pusaka Pulau Es
 

 

 

Segera menyusul serial
Pendekar Kayu Harum
Selengkapnya

 

 

Navigation bar
  Start Previous page
 1 of 847 
Next page End 1 2 3 4 5 6  

Pendekar Super Sakti
Anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun itu mengintai dari kaca jendela dengan
muka marah, mata merah dan gigi berkerot saking marah dan sedihnya menyaksikan
keadaan di ruangan dalam rumah gedung ayahnya. Ruangan itu luas dan terang-
benderang, suara tetabuhan musik terdengar riuh di samping gelak tawa tujuh orang
pembesar Mancu yang sedang dijamu oleh ayahnya. Dari luar jendela ia tidak dapat
menangkap suara percakapan yang diselingi tawa itu karena amat bising bercampur suara
musik, akan tetapi menyaksikan sikap ayahnya terhadap para tamu pembesar itu, anak ini
menjadi marah dan sedih. Ayahnya bicara sambil membungkuk-bungkuk, muka ayahnya
yang biasanya bengis terhadap para pelayan dan angkuh terhadap orang lain, kini menjadi
manis berlebih-lebihan, tersenyum-senyum dan mengangguk-angguk, bahkan dengan
kedua tangan sendiri melayani seorang pembesar yang brewok tinggi besar, menuangkan
arak sambil membungkuk-bungkuk.
Ayahnya yang dipanggil ke kanan kiri oleh para pembesar, menjadi gugup dan kakinya
tersandung kaki meja, guci arak yang dipegangnya miring, isinya tertumpah dan sedikit
arak menyiram celana dan sepatu seorang pembesar lain yang bermuka kuning. Anak itu
dari luar jendela melihat betapa pembesar ini melototkan mata, mulutnya membentak-
bentak dan tangannya menuding-nuding ke arah sepatu dan celananya. Ayahnya cepat
berlutut dan menggunakan ujung bajunya menyusuti sepatu dan celana itu sambil
mengangguk-angguk dan bersoja seperti seekor ayam makan padi! Tak terasa lagi air
mata mengalir keluar dari sepasang mata anak laki-laki itu, membasahi kedua pipinya
dan ia mengepalkan kedua tangannya.
Ia marah dan sedih, dan terutama sekali, ia malu! Ia malu sekali menyaksikan sikap
ayahnya. Mengapa ayahnya sampai begitu merendahkan diri? Bukankah ayahnya
terkenal sebagai Sie-wangwe (Hartawan Sie) yang amat kaya raya dan disegani semua
orang, bukan hanya karena kaya rayanya, melainkan juga karena ia terkenal pula dengan
nama Sie-siucai (Orang Terpelajar Sie). Ayahnya hafal akan isi kitab-kitab, bahkan dia
sendiri telah dididik oleh ayahnya itu menghafal dan menelaah isi kitab-kitab
kebudayaan, dan kitab-kitab filsafat. Semenjak berusia lima tahun, dia telah belajar
membaca, kemudian membaca kitab-kitab kuno dan oleh ayahnya diharuskan
mempelajari isi kitab-kitab itu yang menuntun orang mempelajari hidup dan kebudayaan
sehingga dapat menjadi seorang manusia yang berguna dan baik. Akan tetapi, mengapa
setelah kini menghadapi pembesar-pembesar Mancu, ayahnya menjadi seorang penjilat
yang begitu rendah?
Anak itu bernama Han, lengkapnya Sie Han dan panggilannya sehari-hari adalah Han
Han. Dia putera bungsu Keluarga Sie, karena Sie Bun An yang disebut Hartawan Sie atau
Sastrawan Sie hanya mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah seorang anak
perempuan, kini telah berusia tujuh belas tahun, bernama Sie Leng. Han Han adalah anak
ke dua.
Pada saat itu, Han Han yang mengintai dari balik kaca jendela, melihat ayahnya sudah
bangkit kembali, agaknya mendapat ampun dari pembesar muka kuning, dan kini
Previous page Top Next page

PendekarSuperSakti - page 1 of 847