Mutiara Hitam
Jalan kecil itu menuju ke kota Tai-goan. Jalan yang buruk dan becek, apalagi karena
waktu itu musim hujan telah mulai. Udara selalu diliputi awan mendung, kadang-kadang
turun hujan rintik-rintik, sambung menyambung menciptakan hawa dingin. Seperti biasa,
segala keadaan di dunia ini selalu mendatangkan untung dan rugi, dipandang dari sudut
kepentingan masing-masing. Para petani menyambut hari-hari hujan dengan penuh
kegembiraan dan harapan, karena banyak air berarti berkah bagi mereka. Akan tetapi di
lain fihak, para pedagang dan pelancong mengomel dan mengeluh karena pekerjaan atau
perjalanan mereka terganggu oleh jatuhnya hujan rintik-rintik yang tak kunjung henti.
Hujan rintik-rintik membuat jalan kecil itu sunyi. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang
yang melakukan perjalanan melalui jalan kecil itu lebih suka menunda perjalanan,
beristirahat di warung-warung sambil minum arak hangat, di kuil-kuil atau setidaknya di
bawah pohon rindang, pendeknya asal mereka dapat terlindung dari hujan. Kalaupun ada
yang melakukan perjalanan melalui jalan kecil itu di waktu hujan rintik-rintik menambah
dingin hawa udara pagi itu, mereka tentu bergesa-gesa agar cepat tiba di tempat tujuan.
Beberapa ekor kuda dibalapkan lewat, jupa serombongan kereta lewat dengan cepatnya
melalui jalan kecil, sejenak memecahkan kesunyian dengan suara roda kereta, derap kaki
kuda dan cambuk, diseling suara pengendara yang menyumpah jalan buruk dan hawa
dingin.
Akan tetapi pada pagi hari itu, seekor kuda kurus berjalan perlahan melalui jalan kecil itu.
Kuda yang kurus dan buruk, berjalan seenaknya seakanakan menikmati air hujan yang
berjatuhan jarang di atas kepalanya. Warna kulit kuda ini agaknya dahulunya merah, kini
penuh debu basah sehingga warnanya menjadi coklat dan kotor. Penunggangnya sama
dengan kudanya dalam menghadapi gangguan hujan. Tidak merasa terganggu sama
sekali. Duduk di atas punggung kuda sambil meniup suling! Aneh, mana ada orang lain
berhujan-hujan meniup suling?
Laki-laki itu tinggi tegap, usianya tentu mendekati lima puluh tahun. Raut wajahnya
tampan dan gagah, pandang matanya sayu namun bersinar tajam. Kepalanya terlindung
sebuah topi lebar, terbuat dari anyaman rumput dan sudah butut, robek-robek pinggirnya.
Pakaiannya longgar dan amat bersih, akan tetapi sudah terhias tambalan di beberapa
tempat. Biarpun keadaan orang dan kudanya membayangkan kemelaratan dan sama
sekali tidak menarik, namun suara sulingnya luar biasa sekali. Sayang bahwa tiupan
suling seindah itu tidak pernah terdengar orang karena setiap kali bertemu orang, laki-laki
di atas kuda kurus ini selalu menghentikan tiupan sulingnya. Agaknya ia tidak suka kalau
tiupan sulingnya didengar orang.
Setelah keluar dari sebuah hutan kecil yang gelap, laki-laki itu menghentikan kudanya.
Sepasang mata yang terlindung topi lebar itu memandang ke kanan kiri. Hutan terganti
kebun dan sawah. Beberapa orang petani sibuk bekerja di ladang, agak jauh dari jalan
kecil itu. Laki-laki itu tampak tertarik dan sejenak wajah yang tampan itu berseri.
Kemudian ia menarik perlahan kendali kudanya. Binatang kurus itu berjalan lagi,
seenaknya. Hujan gerimis sudah mereda, tinggal kecil dan jarang, sebentar lagi juga