Kisah Si Bangau Putih
Bagi mereka yang bukan pedagang keliling dan yang tidak pernah melakukan perjalanan
melintasi Tembok Besar, tentu mengira bahwa kekuasaan Kerajaan Ceng yang dipegang
oleh bangsa Mancu tentu berhenti sampai di Tembok Besar itu. Padahal, sesungguhnya
tidaklah demikian. Bangsa Mancu sendiri merupakan bangsa yang tinggal jauh di utara
yang amat dingin, daerah yang keras dan kejam, dan di luar Tembok Besar masih
terdapat daerah yang amat luas. Masih ada Propinsi Liaoning dan Jilin yang berbatasan
dengan Korea, daerah Mancuria sendiri yang luas, kemudian terdapat daerah Mongolia
Dalam atau Mongol, dan daerah Mongolia yang lebih luas. Akan tetapi, setelah melewati
Tembok Besar memang daerah yang liar dan kejam, dengan tak terhitung banyaknya
bukit di antara padang pasir yang luas dan merupakan lautan pasir yang ganas.
Padang pasir seperti ini memang ganas dan kadang-kadang kejam sekali. Dari tulang-
tulang kuda, onta, bahkan manusia yang terdapat berserakan di sana-sini dapat diketahui
bahwa lautan pasir itu sudah banyak menelan korban. Mayat manusia dan bangkai
binatang yang tewas dalam perjalanan melintasi lautan pasir, dibiarkan saja berserakan,
membusuk dimakan terik panas matahari, atau digerogoti anjing-anjing serigala dan
binatang buas lainnya, dibiarkan tinggal tulang-tulangnya saja yang lama-lama
mengering. Lautan pasir yang kelihatan tak bertepi itu, memang kejam, juga mengandung
kesunyian yang mendatangkan suasana yang menyeramkan dan penuh keajaiban.
Bayangkan saja betapa nmengerikan tersesat di lautan pasir seperti itu, di mana tidak
dapat ditemukan setetes pun air, sebatang rumput pasir dan pasir di mana-mana, panas
dan silau,tidak diketahui lagi mana utara mana selatan. Belum lagi kalau datang badai
yang membuat pasir bergulung-gulung dan berombak seperti air di lautan, menelan apa
saja yang menghalang di depan. Para pedagang, yang melakukan perjalanan kemudian
tersesat, kehabisan air minum, kelelahan dan terjebak dalam lautan pasir tanpa
mengetahui ke arah mana mereka harus menuju, saking takut dan ngerinya, banyak di
antara mereka yang dapat melihat pemandangan-pemandangan khayal yang aneh-aneh.
Ada yang melihat air terjun dengan air yang melimpah-limpah dan segar sejuk, akan
tetapi ketika mereka menghampiri, yang ada hanya pasir belaka! Ada yang melihat anak
sungai dengan airnya yang segar, atau melihat kebun dengan pohon-pohon menghijau
dan buah-buah yang sudah masak, dan sebagainya. Namun, semua itu hanyalah bayangan
khayal belaka, yang timbul karena besarnya keinginan hati mereka mengharapkan air,
pohon dan sebagainya yang amat mereka butuhkan itu.
Di tengah-tengah satu di antara padang-padang pasir yang amat luas itu, terdapat sebuah
gedung istana kuno, lengkap dengan perkebunan yang cukup luas, dengan pohon-pohon
buah yang subur, dan sayur-sayuran, bahkan tumbuh pula gandum di ladang. Terdapat
pula sumber air tak jauh dari istana kuno itu. Sungguh merupakan suatu keadaan yang
ajaib, dan andaikata ada orang tersesat sampai ke daerah itu lalu melihat bangunan istana
berikut perkebunannya yang subur itu, tentu dia akan mengira bahwa dia pun hanya
melihat pemandangan khayal belaka.
Akan tetapi tidaklah demikian sesungguhnya. Bangunan itu memang sebuah bangunan
istana yang besar, pernah di jaman dahulu bangunan ini merupakan istana peristirahatan