Asmaraman S. Kho Ping
     
Seri: Bu Kek Siansu
Best Viewed with Screen Resolution 1024 by 768 pixels

Seri Bu Kek Siansu

 

Bu Kek Siansu
Suling Emas
Cinta Bernoda Darah
Mutiara Hitam
Istana Pulau Es
Pendekar Bongkok
Pendekar Super Sakti
Sepasang Pedang Iblis
Kisah Sepasang Rajawali
Jodoh Rajawali
Suling Emas Naga Siluman
Para Pendekar Pulau Es
Suling Naga
Kisah Si Bangau Putih
Kisah Si Bangau Merah
Tangan Sakti
Pusaka Pulau Es
 

 

 

Segera menyusul serial
Pendekar Kayu Harum
Selengkapnya

 

 

Navigation bar
  Start Previous page
 1 of 504 
Next page End 1 2 3 4 5 6  

Kisah Si Bangau Merah
 
Hujan pertama semalam amat lebatnya, deras dan merata sampai puluhan li jauhnya,
melegakan hati para petani. Melegakan tanah kering yang sudah berbulan-bulan
merindukan air. Pagi hari ini udara amatlah cerah, seolah matahari lebih berseri daripada
biasanya, seperti wajah seorang kanak-kanak tersenyum-tawa sehabis menangis.
Kewajaran yang indah tak ternilai.
 
Seluruh permukaan bumi segar berseri seperti seorang puteri jelita baru keluar dari danau
sehabis mandi bersih. Daun-daunan nampak hijau segar dan basah, demikian pula bunga-
bunga, walaupun tidak tegak lagi melainkan banyak menunduk karena hembusan air dan
angin semalam, Tanah yang disiram air selagi kehausan itu, mengeluarkan uapan bau
tanah yang sedap, bau yang mengingatkan orang pada masa kanak-kanak ketika dia
bermain-main dengan lumpur yang mengasyikkan.
 
Burung-burung pun lebih lincah pagi itu. Suasana menakutkan mereka semalam, hujan
dan angin ribut, merupakan bahaya malapetaka yang telah lewat dan mereka menyambut
munculnya matahari pagi dengan kicau saling sahutan, dan mereka siap-siap berangkat
bekerja mencari makan. Kegembiraan nampak pada wajah para petani yang memanggul
cangkul, berangkat ke sawah ladang yang kini kembali menjadi subur menumbuhkan
harapan hasil panen yung baik,
 
Segala sesuatu di dunia ini nampak indah selama kita tidak menyimpan kenangan masa
lalu. Kenangan hanya menimbulkan perbandingan dan perbandingan menghilangkan
keindahan saat ini.
 
"Yo Han, engkau ini bagaimana sih?. Aku dan suhumu bersungguh-sungguh
mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepadamu, akan tetapi engkau selalu acuh tak acuh
menerimanya, buhkan tidak mau berlatih." Suara wanita yang mengomel ini pun
merupakan sebagian dari keindahan pagi itu kalau tidak dinilai. Perusak keindahan adalah
penilaiun dan perbandingan.
 
Anak laki-laki itu berusia dua belas tahun. Dia berdiri dengan sikap hormat, namun
pandang matanya sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut kepada wanita yang
menegurnya, wanita yang duduk di atas bangku di depannya. Mereka berada di kebun
yang terletak di belakang rumah, di mana tadi anak laki-laki itu menyapu kebun yang
penuh dengan daun-daun yang berguguran semalam.
 
Wanita itu adulah Kao Hong Li atau Nyonya Tan Sin Hong. Suami isteri pendekar ini
sejak menikah lima tahun yang lalu, tinggal di kota Ta-tung, di sebelah barat kota raja
Peking, di mana mereka membuka sebuah toko rempa-rempa dan hasil pertanian dan
perkebunan.
 
Tan Sin Hong adalah seorang pendekar yang terkenal, walaupun kini dia hidup dengan
tenang dan tenteram di kota Ta-tung, tidak lagi bertualang di dunia persilatan. Dia pernah
terkenal sekali dengan julukannya Pendekar Bangau Putih atau Si Bangau Putih.
Previous page Top Next page

KisahSiBangauMerah - page 1 of 504