Kian Bu menoleh ke kiri dan tampak olehnya sebuah pulau kadang-kadang tampak
kadang-kadang tidak karena perahu mereka masih dipermainkan ombak yang naik turun
bergelombang. "Lee-ko, mari kita ke sana!"
Dengan susah payah kedua orang kakak beradik ini mendayung perahu mereka dan
akhirnya mereka dapat juga mendarat di pulau kecil itu dan menarik perahu sampai ke
atas daratan yang tidak tercapai oleh air yang bergelombang. Tiba-tiba mereka dikejutkan
suara riuh rendah seperti ada puluhan ekor anjing menggonggong dan menyalak. Ketika
mereka naik ke tengah pulau yang agak tinggi, tampaklah oleh mereka pemandangan
yang menakjubkan. Kiranya pulau itu merupakan tempat tinggal atau sarang dari
sekawanan anjing laut yang jumlahnya mungkin lebih dari seratus ekor!
"Lee-ko, betapa lucunya mereka. Mari kita menangkap seekor anak anjing laut yang
jumlahnya mungkin lebih dari seratus ekor dan kita bawa pulang!" Kian Bu sudah berlari
menuju ke tempat itu.
"Jangan, Bu-te!" Kian Lee melarang, akan tetapi karena adiknya sudah berlari cepat,
terpaksa dia mengejarnya.
Rombongan anjing laut itu makin hiruk-pikuk mengeluarkan teriakan-teriakan mereka
ketika melihat dua orang manusia yang berlari menuju ke arah mereka itu, dan dalam
sekejap mata saja mereka telah terjun ke air dan berenang ke tengah laut. Tampak tubuh
mereka itu timbul tenggelam dan suara mereka masih menguik-nguik sebagai tanda
kemarahan karena ketenangan mereka terganggu.
"Bu-te, jangan ganggu mereka. Bukankah tujuanmu mencari enci Milana, mengapa kau
hendak menangkap anjing laut?" Kian Lee menegur.
Kian Bu tertawa. "Aihhh, aku sudah lupa lagi akan tujuan perjalanan kita, Lee-ko.
Padahal, selain kita masih jauh dari kota raja, sekarang kita bahkan tidak tahu lagi di
mana kita berada."
Suara gerengan dahsyat yang menggetarkan pulau itu mengejutkan mereka. Ketika
mereka membalikkan tubuh, ternyata di depan mereka telah berdiri seekor binatang yang
besar sekali. Besar dan tinggi binatang itu ada satu setengah kali manusia dewasa dan
binatang itu adalah seekor biruang es yang bulunya putih seperti kapas, mata dan
moncongnya kemerahan. Biarpun jarang mereka bertemu dengan seekor biruang es,
namun kedua kakak beradik itu mengerti bahwa binatang itu marah sekali. Mereka sudah
siap dan waspada menghadapi segala kemungkinan.
Sekali lagi binatang itu menggereng dan tiba-tiba saja dia sudah menerjang ke depan.
Biarpun tubuhnya amat besar dan canggung, namun ternyata binatang itu dapat bergerak
dengan cepat sekali, dan dari sambaran angin tahulah dua orang kakak beradik itu bahwa
biruang es ini memlliki tenaga yang amat besar.