semua anak laki-laki, bergejolak dan kini dicetuskan oleh Kian Bu yang mengajak
kakaknya untuk pergi merantau, menyusul encinya di kota raja.
Perahu mereka telah jauh meninggalkan Pulau Es karena angin di pagi hari itu bertiup
kencang sehingga layar yang mereka pasang berkembang penuh. Akan tetapi makin lama
angin bertiup makin kencang sehingga Kian Lee merasa khawatir sekali karena perahu
mereka sudah miring-miring dan meluncur terlalu cepat. Sebaliknya Kian Bu masih
bermain-main, berdiri di kepala perahu, bertolak pinggang dan berteriak-teriak
membiarkan suaranya dibawa angin.
"Bu-te, cepat bantu. Berbahaya kalau begini, kurasa akan ada badai!" Kian Lee yang
mengemudikan perahu dengan dayungnya berteriak lagi.
Mendengar disebutnya "badai", otomatis Kian Bu menghentikan teriakan-teriakannya dan
air mukanya berubah. Tanpa banyak cakap lagi dia lalu menggulung layar dan membantu
kakaknya mendayung sambil berbisik, "Benarkah ada.... badai, Lee-ko?"
"Entahlah, mudah-mudahan saja tidak," jawab kakaknya. "Dan payahnya, mungkin kita
salah jalan, Bu-te. Mengapa belum juga nampak daratan besar?"
Dua orang kakak-beradik ini memang agak gentar terhadap badai. Pernah ayah mereka
bercerita betapa hebatnya kalau badai telah mengamuk di daerah lautan ini. Bahkan
menurut cerita ayahnya, Pulau Es sendiri pernah diamuk badai sampai tenggelam di
bawah permukaan air laut! Betapa mengerikan. Kata ayah mereka, dahulu pulau mereka
itu merupakan sebuah kerajaan, akan tetapi semua penghuninya dibasmi habis oleh badai
dan hanya tinggal bangunan istananya saja. Biarpun mereka berdua yang sejak kecil
tinggal di pulau dan tidak asing dengan lautan, bahkan ahli dalam ilmu renang, pandai
pula menguasai perahu, namun mendengar tentang badai sehebat itu, mereka merasa
gentar juga. Dan sekarang, berada di tengah lautan, jauh dari Pulau Es, mereka merasa
ngeri kalau-kalau ada badai akan mengamuk.
"Lee-ko, bukankah daratan besar letaknya di sebelah barat?"
"Menurut ibu demikian dan tadi aku sudah mengarahkan perahu ke barat. Akan tetapi,
angin kencang mengubah haluan dan kita agaknya menyimpang ke utara. Awas, Bu-te,
angin makin kencang!"
Kedua orang pemuda tanggung itu kini tidak bicara lagi, melainkan menggerakkan
dayung dengan hati-hati untuk mengemudikan perahu mereka yang mulai dipermainkan
ombak. Makin lama angin makin kencang bertiup dan ombak makin membesar sehingga
perahu mereka diombang-ambingkan seperti sebuah mainan kecil dipermainkan tangan-
tangan raksasa! Mereka tidak dapat lagi menentukan arah, hanya mempergunakan tenaga
melalui dayung untuk menjaga agar perahu mereka tidak sampai terbalik.
"Tenang saja, Bu-te...." di tengah-tengah amukan ombak itu Kian Lee berkata kepada
adiknya.