Asmaraman S. Kho Ping
     
Seri: Bu Kek Siansu
Best Viewed with Screen Resolution 1024 by 768 pixels

Seri Bu Kek Siansu

 

Bu Kek Siansu
Suling Emas
Cinta Bernoda Darah
Mutiara Hitam
Istana Pulau Es
Pendekar Bongkok
Pendekar Super Sakti
Sepasang Pedang Iblis
Kisah Sepasang Rajawali
Jodoh Rajawali
Suling Emas Naga Siluman
Para Pendekar Pulau Es
Suling Naga
Kisah Si Bangau Putih
Kisah Si Bangau Merah
Tangan Sakti
Pusaka Pulau Es
 

 

 

Segera menyusul serial
Pendekar Kayu Harum
Selengkapnya

 

 

Navigation bar
  Start Previous page
 1 of 825 
Next page End 1 2 3 4 5 6  

Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kaisar Kian Liong atau Chien Lung merupakan kaisar Kerajaan Ceng-tiauw (Mancu)
yang paling terkenal dan paling besar sepanjang sejarah Bangsa Mancu, semenjak bangsa
yang tadinya dianggap bangsa liar di utara itu menguasai Tiongkok mulai tahun 1644.
Kaisar Kian Liong adalah seorang kaisar yang telah terkenal semenjak dia masih menjadi
pangeran, dihormati dan dikagumi oleh rakyat dari semua lapisan, bahkan dicinta oleh
para pendekar karena pangeran itu memang berjiwa gagah perkasa, mencinta rakyat
jelata, adil dan bijaksana. Oleh karena itu, setelah dia diangkat menjadi kaisar dalam
tahun 1735, pada waktu itu dia baru berusia sembilan belas tahun, boleh dibilang seluruh
rakyat mendukungnya. Biarpun dia juga seorang Bangsa Mancu, namun cara hidupnya,
sikapnya dan jalan pikirannya adalah seorang Han tulen.
Baru saja dia memerintah selama lima tahun, sudah nampak kemajuan-kemajuan pesat
dalam pemerintahannya. Pemberontakan-pemberontakan rakyat padam dan kehidupan
rakyat mulai makmur. Taraf kehidupan rakyat kecil terangkat dan mulailah rakyat
mengenal pembesar dan pejabat sebagai bapak-bapak pelindung, bukan sebagai pemeras
dan penindas seperti di waktu-waktu yang lampau.
Tidak mungkin seorang manusia dapat bertindak tanpa ada yang menentangnya. Kalau
seorang kaisar bertindak bijaksana terhadap rakyat, melindungi rakyat, secara otomatis
dia harus menentang penindasan, harus menentang pembesar-pembesar yang korup dan
yang menindas rakyat. Sebaliknya, kalau seorang kaisar berpihak kepada penindasan dan
korupsi, tentu saja berarti diapun menjadi penindas rakyat. Dalam hal pertama, dengan
sendirinya kaisar akan ditentang oleh mereka yang merasa dirugikan oleh keadilan kaisar
yang tentu saja dapat ditegakkan dengan kekerasan, dia akan ditentang oleh para koruptor
yang merasa terhalang dan terhenti sumber kemuliaannya. Dan sebaliknya, menindas
rakyat tentu akan dihadapi dengan pemberontakan di sana-sini.
Akan tetapi, ternyata Kaisar Kian Liong yang muda itu memilih untuk menjadi pelindung
rakyat dan menghadapi para koruptor dan penindas dengan kekerasan dan keadilan.
Inilah yang membuat rakyat mendukungnya dan para pendekar di empat penjuru juga
mendukungnya. Kenyataan inilah yang membuat pemerintahannya menjadi kuat. Sejarah
menyatakan bahwa dengan dukungan rakyat jelata, pemerintah menjadi kuat, sebaliknya
kalau ditentang rakyat, hanya mengandalkan bala tentara saja, pemerintah akan menjadi
rapuh.
Kaisar Kian Liong pada waktu itu, kurang lebih tahun 1740 setelah lima tahun dia
menjadi kaisar, seolah-olah merupakan bintang yang mengeluarkan sinar terang.
Sinarnya menerangi hati rakyat sampai jauh ke pelosok-pelosok, bahkan sinar itu terasa
sekali di tempat yang terpencil sekalipun, seperti di Pulau Es.
Pulau Es adalah sebuah pulau terpencil jauh di utara, sebuah pulau di antara ribuan pulau
kecil yang berserakan di sekitar Lautan Kuning, Lautan Timur dan Lautan Jepang. Pulau
Es ini merupakan pulau rahasia dan jarang ada manusia yang tahu di mana letaknya yang
tepat, jarang pula ada yang pernah menyaksikannya, apalagi mendarat di sana. Akan
Previous page Top Next page

KisahParaPendekarPulauEs - page 1 of 825