Istana Pulau Es
KEBIASAAN
lama (tradisi) yang dilanggar akan menimbulkan kutuk dan malapetaka
bagi si pelanggar, demikian pendapat kuno. Padahal hakekatnya, semua itu tergantung
daripada kepercayaan. Bagi yang percaya mungkin saja pelanggaran akan dihubungkan
dengan sebab terjadinya suatu halangan. Sebaliknya bagi yang tidak percaya, juga tidak
apa-apa dan andaikata terjadi suatu halangan, hal ini dianggap terpisah dan tidak ada
hubungannya dengan pelanggaran tradisi.
Betapapun juga, apa yang terjadi di Khitan, yang menimpa Kerajaan Khitan oleh semua
rakyatnya dianggap sebagai kutuk para dewata oleh karena dosa besar yang telah
dilakukan oleh Sang Ratu mereka! Kerajaan Khitan mengalami kemerosotan hebat sekali.
Musim dingin amat lama dan hebat menimpa kerajaan ini, hasil buruan amat kurang,
hasil cocok tanam buruk, penyakit menular, wabah yang aneh-aneh menimpa rakyat
Khitan dan semua ini diperburuk dengan bentrokan-bentrokan, yang timbul di antara Para
bangsawan sendiri yang memperebutkan kedudukan, di antara rakyat sendiri yang
keadaannya amat miskin, dan perselisihan dengan suku bangsa lain karena
memperebutkan air dgn daerah subur!
Semua ini adalah kutukan dewa! Demikian anggapan kaum tua di Khitan. Terkutuk oleh
dewa karena pelanggaran hebat yang dilakukan oleh Sang Ratu Yalina, yaitu ibunda Raja
Talibu yang sekarang menjadi Raja Khitan. Di dalam ceritaMUTIARA HITAM telah
diceritakan betapa Ratu Yalina itu diam-diam menjadi isteri pendekar Sakti Suling Emas,
bahkan secara rahasia pula telah melahirkan dua orang bayi kembar, laki-laki dan
perempuan. Menurut kebiasaan lama bangsa itu, bayi kembar laki perempuan setelah
dewasa harus dikawinkan, akan tetapi Ratu Yalina kembali melanggar, tidak
menjodohkan kedua anaknya. Yang laki-laki, yaitu Raja Talibu sekarang ini, dijodohkan
dengan Puteri Mimi puteri Panglima Khitan. Sedangkan anaknya yang perempuan, yaitu
Kam Kwi Lan atau terkenal di dunia kang-ouw sebagal pendekar sakti Mutiara Hitam,
menikah dengan Tang Hauw Lam murid Bu-tek Lojin dan kini suami isteri itu malah
meninggalkan Khitan dan merantau entah ke mana.
Nah, semenjak Ratu Yalina bersama suaminya Si Pendekar Suling Emas, pergi pula
meninggalkan Khitan atas kehendak Suling Emas untuk bertapa di puncak puncak
Pegunungan Go-bi maka mulailah tampak hari-hari buruk menimpa Kerajaan Khitan! Hal
ini bukan sekali-kali karena rajanya, yaitu Raja Talibu, kurang memperhatikan
kerajaannya, atau berlaku lalim terhadap rakyatnya. Sama sekali tidak! Raja Talibu
agaknya mewarisi watak ayahnya, Si Pendekar Sakti Suling Emas, hatinya tidak keras
seperti watak Ibunya. Dia tenang dan sabar mencinta rakyatnya dan memerintah dengan
keadilan. Akan tetapi sepandai-pandainya seorang raja, dia hanya seorang manusia juga
dan apakah kekuasaan seorang manusia yang dapat dilakukan oleh seorang Raja Talibu
terhadap bencana-bencana alam berupa musim dingin panjang disusul musim kering yang
menghabiskan air serta tanah yang tidak berhasil menjadi subur? Apakah yang dapat ia
lakukan terhadap ketamakan dan nafsu para bangsawan yang saling bermusuhan? Dia
hanya dapat menggunakan kekuasaannya untuk meredakan keadaan, untuk mengadili