Asmaraman S. Kho Ping
     
Seri: Bu Kek Siansu
Best Viewed with Screen Resolution 1024 by 768 pixels

Seri Bu Kek Siansu

 

Bu Kek Siansu
Suling Emas
Cinta Bernoda Darah
Mutiara Hitam
Istana Pulau Es
Pendekar Bongkok
Pendekar Super Sakti
Sepasang Pedang Iblis
Kisah Sepasang Rajawali
Jodoh Rajawali
Suling Emas Naga Siluman
Para Pendekar Pulau Es
Suling Naga
Kisah Si Bangau Putih
Kisah Si Bangau Merah
Tangan Sakti
Pusaka Pulau Es
 

 

 

Segera menyusul serial
Pendekar Kayu Harum
Selengkapnya

 

 

Navigation bar
  Start Previous page
 1 of 648 
Next page End 1 2 3 4 5 6  

Cinta Bernoda Darah
Puncak Gunung Thai-san yang menjulang tinggi di angkasa tertutup awan putih tebal
yang bergumpal-gumpal mengelilingi puncak. Hampir selalu puncak Thai-san tertutup
awan, kecuali pada musim panas, sekali waktu ada kalanya puncak Thai-san yang
meruncing itu tampak dari bawah. Keadaan inilah yang menimbulkan dongeng di
kalangan penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung, bahwa puncak Thai-san
merupakan anak tangga menuju ke sorga! Dan bahwa hanya para dewa dan manusia
setengah dewa saja yang dapat mendatangi puncak Thai-san.
Dongeng atau kepercayaan tentang hal ke dua ini tidaklah terlalu berlebihan kalau diingat
bahwa penduduk pegunungan amatlah tebal kepercayaannya akan para dewa yang
menguasai seluruh permukaan bumi dan diingat pula akan keadaan puncak itu sendiri.
Terlalu tinggi, terlalu sukar jalan mendaki puncak, terlalu dingin sehingga manusia biasa
tak mungkin akan dapat mendaki puncak. Terlalu banyak bahayanya. Binatang buas,
jalan yang amat licin, jurang-jurang yang curam, daerah-daerah yang mengeluarkan gas,
dan hawa dingin yang membekukan darah dalam badan.
Memang tak mungkin bagi manusia-manusia biasa, namun mungkin saja bagi manusia-
manusia luar biasa, yaitu manusia-manusia yang memiliki kepandaian tinggi dan
memiliki tubuh terlatih, yang kuat menghadapi semua tekanan, kuat pula mengatasi
semua rintangan. Betapapun juga, jarang sekali terjadi puncak Thai-san dikunjungi orang
pandai, karena selain perjalanan itu amat berbahaya, juga tanpa keperluan yang amat
penting, apakah yang dicari di tempat sunyi itu?
Pagi hari itu amat cerah. Awan putih yang berkelompok di sekitar puncak tampak
berkilauan seperti perak digosok, matahari membobol benteng halimun lembab,
mencairkan segala kebekuan dan menghias ujung-ujung daun dengan mutiara-mutiara air
embun berkilauan seperti hiasan anting-anting pada telinga dara jelita. Burung-burung
berkicau menyambut hari yang amat indah itu, dan segala yang berada di permukaan
bumi seakan bergembira ria.Apakah gerangan yang menyebabkan suasana gembira dan
indah ini?
Tidak mengherankan.Musim semi tiba, pagi hari itu adalah permulaan dari tahun yang
baru. Musim yang tepat sekali untuk memulai segala sesuatu dengan awalan-awalan yang
sama sekali baru! Buang yang lama-lama dan yang buruk-buruk, mulai dengan yang
baru-baru dan yang indah-indah.Setidaknya, demikianlah harapan dan renungan setiap
insan pada setiap tahun baru.
Pada penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung, semenjak pagi hari sudah sibuk
berpesta, bergembira ria merayakan hari tahun baru. Pakaian-pakaian simpanan
dikeluarkan dari peti pakaian “setahun sekali” menghias tubuh, yang muda menghormat
yang tua, yang muda minta maaf, yang tua memaafkan. Saling memaafkan, gembira
tertawa, hilang dengki, lenyap benci. Alangkah indahnya dunia, alangkah nikmatnya
hidup.
Previous page Top Next page

CintaBernodaDarah - page 1 of 648