Asmaraman S. Kho Ping
     
Seri: Bu Kek Siansu
Best Viewed with Screen Resolution 1024 by 768 pixels

Seri Bu Kek Siansu

 

Bu Kek Siansu
Suling Emas
Cinta Bernoda Darah
Mutiara Hitam
Istana Pulau Es
Pendekar Bongkok
Pendekar Super Sakti
Sepasang Pedang Iblis
Kisah Sepasang Rajawali
Jodoh Rajawali
Suling Emas Naga Siluman
Para Pendekar Pulau Es
Suling Naga
Kisah Si Bangau Putih
Kisah Si Bangau Merah
Tangan Sakti
Pusaka Pulau Es
 

 

 

Segera menyusul serial
Pendekar Kayu Harum
Selengkapnya

 

 

Navigation bar
  Start Previous page
 1 of 414 
Next page End 1 2 3 4 5 6  

Bu Kek Siansu
Pagi itu bukan main indahnya di dalam hutan di lereng Pegunungan Jeng Hoa San (Gunung Seribu
Bunga). Matahari muda memuntahkan cahayanya yang kuning keemasan ke permukaan bumi,
menghidupkan kembali rumput-rumput yang hampir lumpuh oleh embun, pohon-pohon yang
lenyap ditelan kegelapan malam, bunga-bunga yang menderita semalaman oleh hawa dingin
menusuk. Cahaya kuning emas membawa kehangatan, keindahan, penghidupan itu mengusir
halimun tebal, dan halimun lari pergi dari cahaya raja kehidupan itu, meninggalkan butiran-butiran
embun yang kini menjadi penghias ujung-ujung daun dan rumput membuat bunga-bunga yang
beraneka warna itu seperti dara-dara muda jelita sehabis mandi, segar dan berseri-seri.
Cahaya matahari yang lembut itu tertangkis oleh daun dan ranting pepohonan hutan yang rimbun,
namun kelembutannya membuat cahaya itu dapat juga menerobos di antara celah-celah daun dan
ranting sehingga sinar kecil memanjang yang tampak jelas di antara bayang-bayang pohon
meluncur ke bawah, di sana sini bertemu dengan pantulan air membentuk warna pelangi yang amat
indahnya, warna yang dibentuk oleh segala macam warna terutama oleh warna dasar merah, kuning
dan biru. Indah! Bagi mata yang bebas dari segala ikatan, keindahan itu makin terasa, keindahan
yang baru dan yang senantiasa akan nampak baru biarpun andaikata dilihatnya setiap hari Sebelum
cahaya pertama yang kemerahan dari matahari pagi tampak, keadaan sunyi senyap.
Yang mula-mula membangunkan hutan itu adalah kokok ayam hutan yang pendek dan nyaring
sekali, kokok yang tiba-tiba dan mengejutkan, susul menyusul dari beberapa penjuru. Kokok ayam
jantan inilah yang menggugah para burung yang tadinya diselimuti kegelapan malam,
menyembunyikan muka ke bawah selimut tebal dan hangat dari sayap mereka, kini terjadilah
gerakan-gerakan hidup di setiap pohon besar dan terdengar kicau burung yang sahut-menyahut,
bermacam-macam suaranya, bersaing indah dan ramai namun kesemuanya memiliki kemerduan
yang khas. Sukar bagi telinga untuk menentukan mana yang lebih indah, karena suara yang
bersahut-sahutan itu merupakan kesatuan seperangkat alat musik yang dibunyikan bersama. Yang
ada pada telinga hanya indah! Sukar dikatakan mana yang lebih indah, suara burung-burung itu
sendiri ataukan keheningan kosong yang terdapat di antara jarak suara-suara itu. 
Anak laki-laki itu masih amat kecil. Tidak akan lebih dari tujuh tahun usianya. Dia berdiri seperti
sebuah patung, berdiri di tempat datar yang agak tinggi di hutan Gunung Seribu Bunga itu,
menghadap ke timur dan sudah ada setengah jam lebih dia berdiri seperti itu, hanya matanya saja
yang bergerak-gerak, mata yang lebar yang penuh sinar ketajaman dan kelembutan, seperti biasa
mata kanak-kanak yang hidupnya masih bebas dan bersih, namun di antara kedua matanya, kulit di
antara alis itu agak terganggu oleh garis-garis lurus. Aneh melihat seorang anak kecil seperti itu
sudah ada keriput di antara kedua alisnya! Anak itu pakaiannya sederhana sekali, biarpun amat
bersih seperti bersihnya tubuhnya, dari rambut sampai ke kuku jari tangannya yang terpelihara dan
bersih, wajahnya biasa saja, seperti anak-anak lain dengan bentuk muka yang tampan, hanya
matanya dan keriput di antara matanya itulah yang jarang terdapat pada anak-anak dan membuat
dia menjadi seorang anak yang mudah mendatangkan kesan pada hati pemandangnya sebagai
seorang anak yang aneh dan tentu memiliki sesuatu yang luar biasa. 
Sepasang mata anak itu bersinar-sinar penuh seri kehidupan ketika dia tadi melihat munculnya bola
merah besar di balik puncak gunung sebelah timur, bola merah yang amat besar dan yang mula-
Previous page Top Next page

BuKekSiansu - page 1 of 414